Setiap keluarga pasti punya cara dan target sendiri dalam mengolah keuangan. Tergantung dari kemampuan dan kondisi finansial keluarga tersebut. Termasuk kami. Walaupun saya sekarang sebagai house wife and soon to be Full Time Mom, saya ngerasa harus tetap memberikan kontribusi dalam mengatur keuangan keluarga.

Dan pagi ini saya “ketampar” dengan status twitternya QM Financial

Ladies pls pay attention. Byk perempuan “dibiayai” suaminya. Terus gajinya gak keru2an pergi ke mana. Yuk berkontribusi u keluarga kita!

Selama ini suami yg tanggung semua biaya hidupmu? Coba lihat Tujuan apa yg ingin jd bagianmu. PelunasanKPR? DanaLiburan? PengeluaranRmhTg?

TAMPAR ATASBAWAHKANANKIRI NIH!

Saya langsung tanya ama diri sendiri? Apa selama ini gaji suami gak karu-karuan perginya kemana-mana?! Paaas banget buat evaluasi menjelang 0ur1st anniversary.. Saya diem. Mikir jawabnya. Hmm, selama ini yang “gak karu-karuan” adalaaah.. uang jajan saya doang kok. Hahahaa. Yang lainnya diusahakan untuk selalu “di jalan yang benar”. Well, I must admit, gak selamanya keuangan kami mulus-mulus aja. Pasti ada naik-turunnya. Tapi “naik-turun” itupun diusahakan tidak drastis, setidaknya, selalu disisihkan untuk tabungan. Soalnya, kalo misalnya “drop” mau minta siapa? oke, ortu pasti juga gak akan tega untuk enggak membantu, tapi masa sih harus mengandalkan ortu? apalagi mereka sudah sepuh..  Makanya usaha untuk disiplin menabung  itu sangat-sangat penting.

Kalo soal pengaturan uang setiap bulan, saya menerapkan cara simple. Bikin anggaran per bulan, catat pemasukan-pengeluaran, dan pemisahan rekening. Tidak jauh berbeda dengan keluarga lainnya.

Yang sedikit berbeda sekarang, saya menerapkan penyusunan cashflow selama 6 bulanan. Untuk periode penyusunan cashflow ini ada yang setahun atau dua tahunan. Alasan saya memilih 6 bulanan, supaya gampang review dan menyusunannya aja🙂 Mungkin itungannya telat yaa, baru setelah setahun menikah baru menyusun ini, hihihi.. maklum, saya kan newbie dan gak ada kata telat untuk memulai bukan? *ngeles*

Kalo saya, karena saya ilmunya masih cetek soal tabulasi keuangan, yah saya bikin yang simple-simple aja deh. Daripada niru yang rumit, malah gak bisa bacanya, wekekek..

Sewaktu kita menyusun anggaran bulanan keluarga, benernya kita pasti bisa tau mana yang merupakan pengeluaran rutin per bulan, 3 bulanan sampe per tahun. Saya pisah-pisahin menurut waktunya.  Berbekal itu saya “nekat” nyusun cashflow keuangan 6 bulanan keluarga, Nyahahahaaha..

Misalnya : bulan Mei, kami harus membayar DP Apartement sebesar XXX. Kemudian bulan Juni, membantu bayar uang kuliah per semester adik XXX atau biaya perpanjangan STNK Mobil mungkin.

Dari situ, saya jadi tahu benernya hampir tidak ada yang namanya “pengeluaran mendadak”. Semua bisa kok direncanakan. Bahkan untuk membantu pengobatan keluarga, QM Financial juga menyinggung soal dana kesehatan ortu.

DanaKesOrtu : asumsi biaya sakit/bln x12bln x 3thn atau 5thn berobat. Jumlahnya bs jd ratusan juta. Gakpunya? Siapkan dr skrg!

Paaas banget.. Malem sebelumnya, saya baru bahas ini dengan suami. Kami berencana untuk memisahkan rekening kesehatan orang tua ini. Walaupun rata-rata orang tua kami ditanggung oleh Askes dan yayasan dari pensiunannya, tapi gak mungkin juga kan kita merem untuk tidak membantu? Misal, biaya wira-wiri rumah sakit, untuk biaya obat tambahan, atau misalnya kudu hire perawat khusus, Pengalaman dari ortu saya kemaren, waktu Mama kecelakaan, nyatanya tidak semua obat bisa direimburse dan pastinya ada plafon tertentu. Kalo sudah gini, gak mungkin kan kita diem aja? Pergunakan saat-saat ortu dan kita sehat untuk menabung demi dana kesehatan ini. Kalo misalnya kita kesusahan dalam menyisihkan perbulan, bisa dipakai jangka 3 bulanan atau misalnya langsung sisihkan dari bonus dan THR yang kita dapat. Dan usahakan untuk dibedakan dengan uang bulanan yang dikirimkan -kalo ada-. Ya soalnya kami juga berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, gak enak kan nengadah tangan ke ortu, hehehe. Boro-boro uang kesehatan ortu, dana darurat aja belum kesampaian.. Indeed! Tapi gak ada susahnya untuk memulai. Jumlahnya bisa disesuaikan dengan kemampuan kita bukan?

Hhmm, kerasa banget kan pe-ernya banyak banget.. Investasi, asuransi, dana pensiun, dana pendidikan, eh sekarang dana kesehatan orang tua. Dana liburan? hahahaha, mabok-mabok deh tuh.. Kata Ligwina, semua tergantung “Tujuan Lo Apa?” Dan bener, semua kembali ke prioritas masing-masing keluarga. No need to rush. Apalagi untuk keluarga muda kayak kami yang penghasilannya tidak seberapa ini, wekekek.. Dana darurat misalnya, idealnya terkumpul dalam jangka waktu 1-3 tahun. Kalo bagi yang sudah langsung terkumpul, yah selamat, kalo belum, pelan-pelan saja.. Bisa dibagi alokasinya dengan Dana Pendidikan anak misalnya. You choose..

Kembali ke cashflow bulanan, buat kami yang pekerja kontrak -yang kontraknya biasanya jangka waktu bulanan- tentunya sistem ini sangat membantu kami buat mengontrol dan evaluasi keuangan kami. Apalagi ada special case, kayak harus rela tahun ini tidak mendapat THR,  hihihi.. Padahal kan lumayan tuh nambahin dana darurat dan biaya ngisi rumah :p  Alhamdulillah, gantinya ada bonus “ketinggalan” dari kantor lama dan sedikit kenaikan gaji. Jadi anggep aja kita “bikin” THR kita sendiri *ngeles* Caranya, ya anggep aja gak naik gaji, selama masa kontrak berlaku, wekekek.

Well, semua keluarga pasti punya rejeki masing-masing. Jujur, kalo iseng blogwalking terus nemu blog keluarga yang sudah punya investasi sendiri-sendiri, saya suka jiper sendiri. Malu juga ding, belum bisa kontribusi buat keuangan keluarga :p tapi semua itu justru jadi sarana evaluasi dan nambah pengetahuan saya. Setidaknya, saya selalu diingetin supaya tetap “di jalan yang benar” 😀