Lagi kerajinan nulis. Sekalian aja, mumpung lagi gak ngadat Mobi-nya. Hehehe..

Ntar hari Senin, kami bakal mudik ke Surabaya. Liburan sekalian siap-siap mau pindahan. Yep, apparently, we’re going to move from this town. Kenapa? karena tempat kerjaannya Mas tutup! hehehe. Sedih? enggak juga. Saya udah tahu lama kok, sebelum nikah malahan. Jadi, kantornya suami saya bergerak di bidang telekomunikasi dan sebagai vendor salah satu perusahaan provider lokal. Ini satunya-satunya cabang di Indonesia dimana perusahaan utamanya di Kanada. Nah, sejak krisis ekonomi global menghantam telak perusahaan utama, berimbaslah ke anak cabang lainnya. Sudah ada yang beli sih, tapi yang di Indo belum ada kepastiannya.

Sebenarnya, turn over dibidang kerjaan suami ini termasuk tinggi, kebanyakan sebagai temporary workers, tergantung proyeknya. Kalo Mas, sebagai permanent worker disini dan sudah 2 tahunan.

Well,perusahaannya Mas ini benernya udah enak banget, suasana kerja dan temen2nya asik2. Sedih deh dia pisah.. Sabar yah sayang..

Sejak ada kepastian tentang ditutupnya kantor, kami harus siap-siap. Yang terpenting, bagaimana pengaturan neraca keuangan keluarga kami bisa lancar. Alhamdulillah, Mas masih menerima pesangon dan bonus. Walaupun besarnya gak seberapa,tapi kami harus tetap cermat mengolahnya.

Browsing-browsing, nemu artikelnya Ligwina Hananto, tentang Tips Mengelola Pesangon. Ada kata2 yang menarik : There’s no such thing as job certainty. Kondisi keuangan pribadi kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Absolutely agree!! Ada beberapa poin penting yang saya jadikan patokan dalam mengatur pesangon ini.

  • Jangan sampai salah mengelola. Pekerjaan baru belum didapat, sementara uang pesangon sudah habis (haduuh..)
  • Membayar hutang. Sisihkan dana untuk hutang konsumtif dan hutang lain seperti KPR, KPM. Hmm.. untuk sementara, kami cuma punya hutang KPR. Dan disarankan, dana yang harus disisihkan adalah 12 bulan dikalikan cicilan KPR. *Dikalikan, buseet, lumayan juga ternyata, LOL!* Okeh, tarik nafas, lanjutt..
  • Dana Darurat. Kalo mama saya bilangnya ini dana keras, hehehe. Besarnya dana darurat tergantung dari pengeluaran rutin kita perbulan, termasuk cicilan hutang dan bantuan keluarga juga. Minimal nyiapin 3 kali. Lebih bagus kalo 12 kali. Well, untuk ini, saya ambil 3 kalinya aja, wekekek. Alasannya? kalo 5 kali, yang lainnya gak kebagian, wekekek..
  • Asuransi Kesehatan. Sejak gak kerja, berarti tunjangan kesehatan kan gak ada, jadi mau ikut asuransi buat kami. Ketahuan mengandalkan reimburse, wahahaha..
  • Tujuan Jangka Pendek. Nah ini juga jadi pertimbangan kenapa si Dana darurat disiapkan 3 kali saja. Kami harus menyiapkan dana untuk Rumah. Bangun rumah biaya, ngisinya juga gak kalah mihil. *meringis* Walaupun gak tahu kapan bisa nempatinnya (Gustii..) yang penting dicicil satu2 aja. Yang standar2 dulu deh. Walaupun standar, tetep aja yah biaya  *tepok jidat*. Jangka pendek kedua, eerr.. si Mas mau beli lensa. Dan sebagai istri yang baik, jadi harus mendukung! *buka excel itung sana, itung sini.. LOL*
  • Tujuan Jangka Panjang dan Modal Berbisnis. Untuk sementara, kita skip dulu =p Ntar kalo udah kuat kuda-kudanya, baru deh, ancang2 buat ini, hehehe

Fiuuuuh..

Uang Pesangon emang menggoda sekali yah. HAHAHA.. Tuhan, bimbing aku,, tutup mata-tutup telinga dari godaan Sale dan paket2 liburan ituu!!

Sekarang berdo’a dan berusaha yang terbaik aja buat kami. Dan saya? juga siap2 buat ngelamar2 kerja lagi. Hehehe.. AMIIIIIIIN yang kenceng!