Ikhlas.. kata yang terdengar simple tapi susah buat dijalani secara sungguh2, apalagi kalo hal itu berkaitan dengan perbuatan yang tidak kita lakukan tapi kita disalahkan. .

Saya tidak akan bercerita tentang detail kejadiannya seperti apa. Antara parno dan ngerasa pesimis bisa ada tindak lanjut dari kejadian yang menimpa saya hari Minggu kemarin. Intinya, saya merasa dihina dan dilecehkan di depan umum oleh salah seorang oknum panitia sebuah ujian. Saya tidak tahu maksud panitia itu apa. Kenapa begitu arogan kepada saya dan menghina saya,mentang2 saya lagi cari kerja, saya bisa dilecehkan begitu. Bayangkan, didepan seribu orang lebih!! Sayangnya saya hanya bisa menangis dan gemetaran saking shock, marah dan malu, akhirnya mau menanda tangani pernyataan kalo saya menggunakan jeans ketika ujian. Padahal, saya jelas2 menggunakan celana kain warna hitam! Argumen dia, celana saya seperti jeans dan bentuknya hipster! Saya pengen teriak saking keselnya menjelaskan kalo celana saya itu adalah CELANA BAHAN  KAIN WARNA HITAM DAN BENTUKNYA CUTBRAY!! Bayangkan! betapa jauh model HIPSTER DAN CUTBRAY!! Potongan celana itu jelas2 bukan di panggul, tapi dipinggang bahkan sampai diperut!!! Bahkan panitia lain berusaha membantu saya untuk menjelaskan kalo itu bukan jeans, tapi tetap saja oknum itu tidak mau mendengarkan malah membentak2 saya!! Ya Tuhaaaaaan!!!!

Saya memang berusaha ikhlas, tapi rasa trauma masih ada. Saking malu dan kesalnya saya, sampai sekarang kalo ingat kejadian ini saya menangis!.  Berlebihan kah kalo saya sampe menangis dan trauma karena dipermalukan di depan umum seperti itu? Ini sudah bentuk dari pelecehan sebetulnya.. Bayangkan kalo Anda sampai dilecehkan didepan seribu orang lebih!

Astaghfirullah!

Saya memang tetap diperbolehkan untuk ujian. Awalnya saya tidak mau, tapi saya ingat suami saya yang sudah setia nungguin selama saya ujian, usaha kami untuk sampai tempat ujian, dan do’a orang tua saya yang pastinya bikin saya terpacu untuk melakukan yang terbaik. Saya tetap menyelesaikan ujian itu bukan karena saya merasa salah tapi bagi saya, saya sudah diberi kesempatan oleh Allah dan sudah memulainya kemarin, Jadi hari ini saya juga harus menyelesaikannya pula. Saya memilih tidak ribut langsung dengan oknum itu juga mempertimbangkan peserta lainnya yang sudah siap ujian. Saya khawatir, kalo saya tetap ribut yang ada oknum itu malah menjadi-jadi dan menyebabkan suasana ujian tidak kondusif.. Tapi bukan berarti rasa malu akibat dilecehkan hilang begitu saja. Saya harus berusaha keras menenangkan diri, antara pikiran kalut dan berkonsentrasi menyelesaikan ujian Tes Potensi Akademik yang jelas2 harus membutuhkan konsentrasi tinggi!

Jujur, sekarang saya masih bingung, banyak saran yang menganjurkan saya menulis di surat pembaca, karena menurut mereka ini sudah menyangkut harga diri. Orang lain aja komplain pulsanya kepotong tanpa izin oleh providernya saja berani menulis di Surat Pembaca… Tapi sisi lain saya pesimis dan males berurusan dengan oknum itu. Arogansi dan kasarnya bikin muak!

Hhh.. smoga saya diberi ketabahan hati untuk menyelesaikan kasus ini.. dan dilapangkan dada untuk menjalani cobaanNya. Amiiin!